JALUR NAGA, Eksotisme Perjalanan Menuju Puncak Natas Angin di Pegunungan Muria
- November 22, 2017
- By Unknown
- 0 Comments
“Butuh nyali besar, Kawan. Belum afdol mendaki Muria, kalau belum merasakan sensasi jalur ini”
Ungkapan-ungkapan seperti itulah yang membuat saya memutuskan untuk mendaki kembali ke salah satu puncak Pegununungan Muria. Yakni Puncak Natas Angin, yang berketinggian 1512 mdpl (meter diatas permukaan laut). Memang tidak terlalu tinggi dibanding gunung-gunung lain, yang pernah saya daki. Akan tetapi, rasa penasaran mendengar cerita tentang jalur yang dilalui, mendorong saya untuk segera menjejakkan kaki di sana. Mendaki tidak melulu tentang ukuran ketinggian, tetapi banyak hal yang bisa diamati. Seperti vegetasi yang tumbuh, hewan-hewan khas, atau sekedar menghirup udara pegunungan yang kaya akan oksigen. Dan memang sudah lama sekali saya tidak melakukan pendakian di Pegunungan Muria. Terakhir kali pada tahun 1997, ketika saya duduk di bangku SMA.
Perjalanan dimulai dari Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten KUDUS, Propinsi Jawa Tengah. Untuk mencapai lokasi ini cukup mudah, banyak petunjuk arah disepanjang jalan. Desa dengan ketinggian berkisar 500 mdpl ini cukup terkenal sebagai titik awal pendakian dan juga dinobatkan sebagai Desa Wisata di Kabupaten Kudus. Untuk memulai perjalanan, tidak perlu khawatir soal penitipan kendaraan, karena beberapa penduduk desa membuka usaha jasa tersebut. Begitu juga soal makanan. Tidak perlu risau, karena ada beberapa warung makan sederhana, mulai dari awal pendakian sampai di tempat peristirahatan sebelum menuju puncak.
![]() |
| Pemandangan di Pegunungan Muria |
![]() |
| Jalur Naga yang berkelok-kelok |
![]() |
| Salah satu titik yang putus |
Perjalanan dilanjutkan kembali setelah puas memandang indahnya hamparan gunung hutan berselimut kabut tipis. Bismillahirrohmanirrohim. Jalur Naga, I am coming……
Mendaki jalan setapak dengan bebatuan terjal sebagai pijakannya, merupakan sensasi tersendiri untuk saya. Oiya, perjalanan semacam ini sebaiknya tidak dilakukan oleh Emak yang takut ketinggian.
Di separuh perjalanan terdapat satu titik yang nyaris putus karena batu pijakannya longsor. Keraguan sempat menghampiri, tetapi segera tergilas oleh semangat dan keyakinan. Akhirnya perjuangan berakhir dengan indah. Kaki menjejak Puncak Natas Angin. Rasa lelah dan was-was terbayar dengan suguhan pemandangan yang menawan dan suasana gunung yang tenang damai.
Bagaimana Mak, mau ikut mendaki seperti saya? Gak maksa kok sekedar nawarin aja𝩀









0 komentar