JALUR NAGA, Eksotisme Perjalanan Menuju Puncak Natas Angin di Pegunungan Muria



“Butuh nyali besar, Kawan. Belum afdol mendaki Muria, kalau belum merasakan sensasi jalur ini”

Ungkapan-ungkapan seperti itulah yang membuat saya memutuskan untuk mendaki kembali ke salah satu puncak Pegununungan Muria. Yakni Puncak Natas Angin, yang berketinggian 1512 mdpl (meter diatas permukaan laut). Memang tidak terlalu tinggi dibanding gunung-gunung lain, yang pernah saya daki. Akan tetapi, rasa penasaran mendengar cerita tentang jalur yang dilalui, mendorong saya untuk segera menjejakkan kaki di sana. Mendaki tidak melulu tentang ukuran ketinggian, tetapi banyak hal yang bisa diamati. Seperti vegetasi yang tumbuh, hewan-hewan khas, atau sekedar menghirup udara pegunungan yang kaya akan oksigen. Dan memang sudah lama sekali saya tidak melakukan pendakian di Pegunungan Muria. Terakhir kali pada tahun 1997, ketika saya duduk di bangku SMA.

Perjalanan dimulai dari Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten KUDUS, Propinsi Jawa Tengah. Untuk mencapai lokasi ini cukup mudah, banyak petunjuk arah disepanjang jalan. Desa dengan ketinggian berkisar 500 mdpl ini cukup terkenal sebagai titik awal pendakian dan juga dinobatkan sebagai Desa Wisata di Kabupaten Kudus. Untuk memulai perjalanan, tidak perlu khawatir soal penitipan kendaraan, karena beberapa penduduk desa membuka usaha jasa tersebut. Begitu juga soal makanan. Tidak perlu risau, karena ada beberapa warung makan sederhana, mulai dari awal pendakian sampai di tempat peristirahatan sebelum menuju puncak.

Pemandangan di Pegunungan Muria
Perjalanan mendaki dimulai dari jam 19.00 WIB dengan melewati 4 pos pendakian dan sebuah tempat peristirahatan. Pos 1 adalah Desa Rahtawu sendiri, yang berketinggian 513 mdpl. Kemudian menuju pos 2 dengan ketinggian 723 mdpl, yang ditandai dengan adanya mata air dan sebuah gubug kayu. Pos 3 berketinggian 832 mdpl, yang ditandai dengan sebuah warung dipinggir jalur pendakian, dan di pos 4 (1147 mdpl) terdapat sebuah sendang bernama SENDANG SUCI. Mata air di sendang ini biasa digunakan oleh para peziarah untuk mensucikan diri dan sekedar mengambil air minum, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Padepokan Abiyoso. Sebuah tempat yang dipercaya sebagai petilasan *Begawan Abiyoso (*dalam cerita pewayangan dikisahkan sebagai Ayahanda dari Raja Pandhu Dewanata). Sampai Padepokan waktu menunjukkan jam 21.50 WIB. Padepokan menjadi tempat untuk mengistirahatkan badan setelah 3 jam perjalanan menanjak nyaris tanpa dataran rata.

Jalur Naga yang berkelok-kelok
Perjalanan dilanjutkan keesokan harinya. Inilah yang saya tunggu, JALUR NAGA. Dari padepokan, saya melanjutkan perjalanan menanjak melewati hutan. Kerapatan daun pepohonan cukup tebal, membuat tanah di bawahnya menjadi lembab. Setelah berjalan beberapa waktu, sampailah saya di sebuah gundukan di balik bukit. Ternyata gundukan tersebut merupakan titik awal dari Jalur Naga.  Pantas saja disebut demikian, karena memang jalurnya berkelok-kelok seperti bentuk tubuh seekor ular ketika sedang merayap. Atau mungkin karena untuk melalui beberapa titik di jalur tersebut, diperlukan adegan merayap seperti ular. Dari kejauhan, Jalur Naga terlihat hanya berupa garis jalan setapak. Membuat nyali sempat menciut. Belum lagi dampak kebakaran hutan, yang menyebabkan semak dan pepohonan pelindung habis terbakar. Pandangan mata langsung berhadapan dengan jurang di sisi kanan kiri jalur.

Salah satu titik yang putus
Keren. Eksotis. Mantap.

Perjalanan dilanjutkan kembali setelah puas memandang indahnya hamparan gunung hutan berselimut kabut tipis. Bismillahirrohmanirrohim. Jalur Naga, I am coming……
Mendaki jalan setapak dengan bebatuan terjal sebagai pijakannya, merupakan sensasi tersendiri untuk saya. Oiya, perjalanan semacam ini sebaiknya tidak dilakukan oleh Emak yang takut ketinggian.
Di separuh perjalanan terdapat satu titik yang nyaris putus karena batu pijakannya longsor. Keraguan sempat menghampiri, tetapi segera tergilas oleh semangat dan keyakinan. Akhirnya perjuangan berakhir dengan indah. Kaki menjejak Puncak Natas Angin. Rasa lelah dan was-was terbayar dengan suguhan pemandangan yang menawan dan suasana gunung yang tenang damai.

Sungguh sebuah perjalanan yang sarat makna. Seperti yang saya katakan di awal, pendakian bukan melulu soal ketinggian yang berhasil ditaklukkan. Banyak hal yang bisa diambil sebagai pelajaran. Pendakian, saya ibaratkan sebagai perjalanan hidup. Seterjal apapun jalan yang terbentang, yakinlah bahwa kita sudah dipersiapkan oleh-Nya untuk mampu melalui. Yakinlah bahwa di setiap kita terpuruk akan ada jalan pertolongan. Yakinlah di setiap kesulitan ada jalan keluar. Tinggal berusaha keras dan berdoa untuk tetap dimampukan. Dan di ujung perjalanan yang melelahkan, insya Allah ada keindahan yang sudah dipersiapkan.
Bagaimana Mak, mau ikut mendaki seperti saya? Gak maksa kok sekedar nawarin aja𝩀

You Might Also Like

0 komentar