Suka Minum Kopi? Yuk, Kunjungi Pabrik dan Perkebunan Kopi Jollong
- Maret 05, 2018
- By Unknown
- 0 Comments
Halo Sahabat Blogger,
Weekend depan, mau jalan-jalan kemana? Masih banyak pekerjaan yang mesti diselesaikan? Atau, mau di rumah saja menghabiskan waktu bercengkerama dengan orang-orang tercinta? Kalau saya sih, tentatif ya. Suka dengan bepergian serba dadakan. Heheeee ... Bagaimana dengan kalian? Well, apapun itu, kalian pasti lebih tau mana yang terbaik dan mesti didahulukan, ya ....
Baiklah, saya mau berbagi cerita tentang pelesir tipis-tipis yang saya lakukan seminggu lalu. Tujuan utamanya sih, bukan piknik, tetapi hendak mengumpulkan bahan untuk membuat artikel. Nah, saya memilih mengenalkan agrowisata di Pati sebagai wujud rasa kecintaan terhadap kota kelahiran.
Mau tau agrowisata tersebut? Yapt, Agrowisata Jollong atau lebih dikenal dengan sebutan Perkebunan Kopi Jollong. Sebenarnya sudah berkali-kali saya mengunjungi tempat ini. Dokumentasi pun masih lengkap tersimpan. Tetapi, akan lebih greget dan terasa story tellingnya ketika saya menuliskan pengalaman yang baru saja saya temui.
![]() |
| Taman setelah melewati gapura perkebunan |
Menuju Jollong
Agrowisata Jollong bisa ditemukan dengan mudah. Sebab papan petunjuk arah sudah terpampang jelas di sepanjang jalan disertai dengan perkiraan jarak tempuh. Papan petunjuk arah ini dibuat oleh PTPN IX, sebagai pengelola perkebunan. Keren, kan?
Anggap saja, saat ini, kalian sudah berada di Kota Pati, maka carilah arah menuju Tlogowungu. Begitu sampai di pertigaan masjid, ambil arah barat atau ke kiri menuju Waduk Gunung Rowo. Teruslah memacu kendaraan, hingga menemui pertigaan tepat di jalan yang sedikit menikung. Ambillah arah ke kiri menuju Jollong. Nah, dari titik ini, sudah ada papan petunjuk arah disepanjang jalan. Jadi, 'gak perlu khawatir kesasar, ya.
Perkiraan waktu tempuh yakni sekitar 1 jam berkendara santai dari Kota Pati. Oiya, disarankan menggunakan kendaraan pribadi, karena sangat jarang ditemui angkutan umum sampai Jollong. Kalaupun ada, biasanya angkutan yang disewa secara khusus oleh penduduk sekitar atau pengunjung agrowisata.
Perkebunan Kopi Jollong
Sesampainya di gapura perkebunan, kalian mesti membeli tiket masuk sebesar Rp6.000,00 per orang. Terjangkau sekali, kan? Dengan membayar sebesar harga tersebut, kalian bisa mengelilingi area agrowisata sepuasnya. Tetapi, beberapa wahana berbayar mengenakan tiket masuk bagi pengunjung. Yakni outbond kids, terapi ikan, kereta wisata, taman pemancingan, dan flying fox. Selain kereta wisata, harga tiket wahana lainnya sangat terjangkau. Kereta wisata memang diperuntukkan kepada pengunjung secara kelompok. Kalau dihitung-hitung, sih, sama saja harga tiket per orangnya.
Berjam-jam mengelilingi agrowisata ini, tidak akan membuat bosan, loh! Banyak hal bisa diamati, terutama mengenai tanaman kopi. Siapa yang suka meminum kopi? Sudah tau pohon dan bentuk buahnya? Nah, kalian bisa melihat kebun kopi dan mengamati cara penyambungan batang kopi. Saya mengamati cara menyambung batang kopi yang dilakukan terhadap batang tanaman tua.
![]() |
| Kopi Jollong Robusta |
"Mas, cara nyambung kopi, kok beda dengan pohon jambu atau mangga? Kenapa tuh, Mas?" rasa penasaran saya membuahkan perbincangan singkat dengan salah seorang pekerja perkebunan. "Namanya sambung pucuk Mbak, bagian yang disambung adalah pucuk tanaman dari jenis kopi unggul. Sedangkan bagian bawah merupakan tanaman kopi yang tahan terhadap penyakit tanah, akar, dan kondisi air yang kurang baik. Nah, plastik yang menutupi area sambungan ini, berfungsi untuk menjaga kelembapan udara," saya cuma manggut-manggut sambil sesekali mengamati sambungan tanaman tersebut.
Kopi yang ditanam di perkebunan ini merupakan jenis kopi robusta yang memiliki rasa pahit tajam. Kopi robusta memang cocok tumbuh di daerah dengan ketinggian antara 500-800 mdpl, seperti daerah Jollong. Perlu kalian ketahui, perkebunan Jollong dibangun pada zaman kolonial Belanda, yakni pada tahun 1895. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, bangunan pabrik kopi ini masih terlihat kokoh dan terawat.
Kebun Jeruk Pamelo
Di sisi yang lain, kalian bisa melihat hamparan kebun jeruk pamelo, yang merupakan alih fungsi lahan kopi. Pengalihan tersebut dilakukan untuk merotasi tanaman, mengingat sudah ratusan tahun tanah ditanami kopi. Unsur hara yang dibutuhkan kopi sudah sangat menipis, sehingga memengaruhi produktivitas kopi. Selain jeruk pamelo, di bagian belakang pabrik ditanami ribuan jeruk nipis yang cukup memiliki nilai ekonomis.
Oiya Sahabat Blogger,
Bagi kalian yang suka foto-foto kekinian, di agrowisata ini juga dilengkapi dengan spot-spot foto instagramable, loh. Latar belakang pemandangan lereng Pegunungan Muria dan hamparan hijau pepohonan menghasilkan foto yang keren. Kalian bisa membagikan foto-foto tersebut di akun media sosial, sehingga semakin banyak orang yang mengetahui keindahan Agrowisata Jollong.
![]() |
| Spot-spot instagramable |
Beberapa warung makan sederhana juga ada di area ini. Salah satunya warung Mikojol, Minum Kopi Jollong, milik perkebunan. Meskipun sederhana, suasana sejuk dan penataan warung sangat apik, sehingga membuat pengunjung merasa nyaman. Sesuai namanya, kopi Jollong merupakan menu andalan warung ini. Warung lain juga dikelola oleh perkebunan yakni warung makan Agro Jollong, yang menempati salah satu bangunan lawas.
Selain warung milik perkebunan, terdapat kompleks area warung khusus untuk berjualan penduduk sekitar, yang diayomi dalam sebuah paguyuban.
![]() |
| Warung makan, mie, dan kopi Jollong |
Jika Sahabat Blogger berada di sekitar Pati, sempatkan mampir ke Jollong, ya. Ajak juga anak-anak, karena di tempat ini terdapat area bermain anak serta taman-taman yang sejuk dan nyaman untuk bermain. Dijamin 'gak akan kecewa!










0 komentar