Flasback! Nekat Backpacking Menuju Bromo

Unforgetable Bromo
Bromo!!! Yesss, salah satu destinasi wisata alam favorit saya. Meskipun berkali-kali mengunjungi Bromo, saya tidak pernah merasa bosan. Ada saja pengalaman baru yang ditemui ketika menikmati dinginnya udara Bromo. Teman perjalanan juga memberikan warna dan keceriaan yang berbeda, seru!

Saya pernah mengunjungi Bromo berdua dengan teman, bersama suami, dengan keluarga sahabat satu indekos semasa kuliah, keluarga saudara yang juga suka berpetualang, maupun menjadi tim pembawa rombongan teman sekantor sebanyak tiga bus.

Amazing Bromo
Backpacking Pertama Kali
Masih jelas dalam ingatan saya, saat pertama kali mengunjungi Bromo. Yup, keinginan yang begitu menggebu bercampur sedikit tindakan nekat. Waktu itu, sekitar tahun 2006, saya mengajak teman yang bekerja di LIPI Bali untuk backpacking ke Bromo. Ajakan yang awalnya hanya sebuah guyonan yang berakhir dengan keberangkatan seminggu kemudian.

"Wes tau nek Bromo, Wi? Apikkkk banget nek ndelok gambar-gambare. Mosok gak kepengen mrono, leh?" begitu kira-kira ajakan yang saya lontarkan kepada Dewi Lestari dalam dialek kental khas Pati. Saya memilihnya bukan tanpa sebuah alasan, sebab dia memiliki hobi berpetualang yang sama seperti saya. Meskipun awam dan benar-benar tidak paham dengan situasi di sana, kami memutuskan untuk berangkat.

Saya berangkat dari Pati, sedangkan sahabat saya berangkat dari Bali. Kami bersepakat untuk bertemu di terminal bus Probolinggo pada jam 10 pagi. Hanya titik pertemuan dan jam saja yang kami tentukan, selebihnya akan dibicarakan secara detail setelah bertemu.

Mengenai cara untuk mencapai tempat perjanjian, menjadi urusan masing-masing. Oiya, kami berasal dari Pati, kemudian sama-sama menimba ilmu di Institut Pertanian Bogor. Oleh karena itu, Jawa Timur bukanlah daerah yang familiar bagi kami.

Menuju Destinasi
Dua tempat persinggahan sama sekali belum pernah saya datangi, yakni terminal bus Bungurasih dan Probolinggo. Namun, jiwa petualang telah melibas berbagai macam keraguan tersebut. Kejadian itulah menjadi awal keberanian untuk melakukan perjalanan ala backpacker.

Perjalanan dimulai sekitar jam 12 malam, dengan menaiki bus ekonomi jurusan Semarang-Surabaya. Awalnya saya merasa was-was, karena baru pertama kali menaiki bus ekonomi di tengah malam dengan waktu tempuh sekitar 6 jam. Tetapi, saya sedikit tenang, karena cara berpakaian saya yang cenderung santai dan tidak mencolok, mampu menghindari segala macam tatapan orang. Saya mengenakan jaket, celana jeans, sandal gunung, dan daypack kesayangan.

Jam 6 pagi bus tiba di terminal Bungurasih Surabaya. Suasana di terminal sudah ramai dan tidak menyeramkan seperti beberapa terminal yang pernah saya singgahi. Di dalam terminal, saya berusaha bersikap tenang dan santai, diam-diam mengamati papan petunjuk informasi dengan teliti, serta menjawab pertanyaan calo maupun awak bus dengan sopan. Ternyata, hal tersebut sangat mempermudah upaya mencari tempat keberangkatan bus menuju Probolinggo.

Sekitar jam 7 pagi bus meluncur menuju Probolinggo. Perjalanan sekitar dua jam saya lalui dengan perasaan senang, karena mampu melewati tantangan dengan aman dan lancar. Jam 9 pagi, bus sampai di terminal Probolinggo. Begitu turun dari bus, tempat yang saya tuju adalah toko yang menjual minuman mineral kemasan.

Sebenarnya masih ada air minum di dalam tas. Namun dengan membeli minuman, saya bisa ngobrol banyak hal dengan pemilik toko. Sambil menunggu Dewi, saya bertanya mengenai kendaraan menuju Bromo, tempat mangkal, tarif yang wajar, serta jam keberangkatan terakhir kendaraan elf tersebut. Ternyata, elf yang akan segera berangkat mangkal di luar area terminal. Dulu, tarif normalnya Rp15.000,00 sekali jalan. Enggak tau kalau sekarang, sudah mencapai nominal berapa.

Sekitar jam 11.00 WIB saya bertemu Dewi di toko makanan dan minuman tersebut. Kami sepakat untuk makan siang di terminal dan menuju Bromo sekitar jam 12 siang. Setelah berkeliling terminal, akhirnya kami menemukan tempat mangkal elf yang akan segera berangkat. Wow, cukup kaget melihat penumpang yang hendak menaiki kendaraan tersebut. "Memangnya cukup ya, elf ditumpangi orang sebanyak ini?", cukup lirih saya berbicara dengan Dewi. Iseng-iseng saya menghitung jumlah penumpang, wow, sekitar 30 orang.

Kami duduk berdesakan dengan penumpang lain yang begitu beragam. Ada anak-anak sekolah, ibu-ibu yang baru pulang dari pasar, wisatawan mancanegara yang backpacking ke Bromo, wisatawan lokal seperti kami, dan beberapa orang yang sepertinya mau pergi ke kondangan. Ada juga penumpang yang duduk diatas atap kendaraan bersama dengan tumpukan tas bawaan penumpang. Penumpang tersebut pada umumnya adalah anak laki-laki yang baru pulang sekolah. Tindakan yang sangat berisiko menurut saya, karena jalan yang di tempuh menanjak dan berkelok-kelok. Namun, sepertinya mereka enjoy dan sudah memahami betul setiap tanjakan dan kelokan jalan yang dilalui.

Bromo!!! Sambutlah Kami
Dua jam perjalanan yang begitu berkesan dan menyenangkan. Menikmati serunya naik elf bersama penduduk lokal, melihat hamparan ladang sayuran di lereng-lereng bukit dengan kemiringan yang cukup curam. Kurang lebih dua jam, kami sampai di terminal kecil yang menjadi ujung dari trayek elf Bromo. Ternyata, kami merupakan penumpang terakhir yang berhenti di ujung trayek. Pengunjung lain berhenti di alamat penginapan yang telah dipesan sebelumnya.

Amazing Bromo

Berkeliling untuk melihat-lihat situasi dan pemandangan, kemudian melibatkan diri dalam obrolan dengan penduduk lokal, merupakan langkah tepat untuk memeroleh informasi penginapan. Setelah beberapa saat berkeliling, kami mendapatkan penginapan di rumah salah seorang penduduk lokal, yakni Suku Tengger. Hmmm, lega rasanya, meskipun kamar yang kami tempati begitu sederhana dan ala kadarnya. Paling tidak kami bisa meluruskan badan, beristirahat, dan membersihkan diri.

Begitu selesai membersihkan diri, kami berjalan-jalan menikmati keindahan alam dan dinginnya udara Bromo. Tujuan utamanya adalah memeroleh paket touring Bromo dan melihat sunrise di Penanjakan. Udara terasa dingin menusuk meskipun baru jam 4 sore. Pantas saja, karena waktu itu merupakan puncak musim kemarau. Singkat cerita, paket touring Bromo didapatkan dengan bergabung bersama sebuah keluarga dari Surabaya.

Alhamdulillah, akhirnya bisa tersenyum lega. Tujuan menikmati keindahan dan wisata alam Bromo akan segera terwujud besuk pagi. Kami segera kembali ke penginapan setelah bertukar nomor ponsel dan bernegosiasi dengan keluarga baik hati tersebut. Sepanjang jalan, senyum manis dan bahagia menghiasi wajah. Kami begitu beruntung.

Segoro Wedi
Seru! Savana Bromo

Penanjakan: Me and Yosa 

Yesss, begitulah kisah perjalanan ala backpacker nekat yang saya lakukan pertama kali. Sampai saat ini, perjalanan semacam itu sering saya lakukan. Seru, penuh tantangan, dan memberikan banyak pengalaman serta pelajaran berharga tentang kehidupan. Kamu suka bertualang semacam itu? Tetap berpikir positif, maka kamu akan mendapatkan feedback yang baik pula. Salam backpacker!!!









You Might Also Like

0 komentar