Wow! Inilah 5 Fakta Menarik Tentang Kota Kretek Kudus

Haiii, Bu! Sudah pernah singgah di Kudus? Kabupaten yang terletak di jalur Pantura pulau Jawa ini, menjadi urat nadi perekonomian Jawa Tengah, loh! Kudus di kenal dengan sebutan kota kretek, karena banyaknya industri rokok dari skala rumah tangga hingga pabrik raksasa. Pada zaman dulu, setiap pagi dan sore hari, terdapat pemandangan sangat menarik, yakni banyak pekerja perempuan menaiki sepeda ontel.

Kebiasaan menaiki sepeda ontel kian hari semakin menghilang karena banyaknya angkutan dan sepeda motor. Namun, Kudus masih memiliki banyak daya tarik. Mulai dari wisata religi, belanja, kuliner, maupun tradisi yang berlangsung hingga saat ini. Penasaran 'kan, Bu?

Sejarah Kudus
Zaman dulu, Kudus bernama Kota Tajug. Sebuah nama yang diambil dari bentuk atap tradisional kuno, yang banyak dijumpai di daerah tersebut. Atap tajug mencirikan sebuah bangunan keramat yang digunakan sebagai tempat bersembahyang pemeluk agama Hindu.

Nah, perubahan nama dilakukan oleh Ja’far Shadiq saat menyebarkan agama Islam di daerah Tajug. Siapa sih, Ja’far Shadiq itu? Beliau adalah salah satu penyebar agama Islam di Jawa, yang terkenal dengan sebutan Wali Songo. Hingga saat ini, masyarakat lebih familiar dengan sebutan Sunan Kudus.

Fakta Menarik Mengenai Kudus


1. Terdapat Gerbang Kota Termegah di Asia Tenggara

Keberadaan gerbang kota menegaskan Kudus sebagai kota kretek. Gerbang ini berada di sebelah barat, berdekatan dengan Kabupaten Demak, dikenal dengan sebutan GKKK. Gerbang Kudus Kota Kretek diresmikan pada bulan April 2016.

GKKK yang merupakan sebuah monumen, dibangun dengan biaya berkisar 16 Milyar. Wow!!! Sebanding dengan keindahannya, terutama pada malam hari. Cahaya lampu berwarna-warni sangat indah, menarik perhatian banyak orang. GKKK ini disebut-sebut sebagai gerbang kota termegah di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara loh, Bu!


2. Kota Wisata Religi

Selain Sunan Kudus, ada satu tokoh penyebar agama Islam yang juga sangat tersohor, yakni Sunan Muria (Raden Umar Sa'id). Nah, makam kedua sunan tersebut berada di Kabupaten Kudus.

Pada bulan Suro atau Muharram, makam-makam tersebut banyak dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah di pelosok nusantara.

3. Mayoritas Masyarakat adalah Pedagang

Sebagian besar masyarakat Kudus memiliki bakat berdagang. Hal ini tidak terlepas dari peran Sunan Kudus dalam ajaran yang disebarkannya. Gusjigang. Bagus, ngaji, dagang. Bagus akhlaknya, pandai mengaji, dan pintar dalam berdagang. Sebuah ajaran yang sangat mendalam maknanya 'kan, Bu? Ajaran mengenai keseimbangan kehidupan dunia dan akhirat.

4. Tidak Memakan Daging Sapi

Sebelum masuknya agama Islam, mayoritas masyarakat Jawa memeluk agama Hindu dan Budha. Nah, sapi merupakan hewan yang dianggap suci oleh pemeluk agama Hindu. Tidak memakan daging sapi merupakan perwujudan toleransi kehidupan beragama di Kudus. Indah 'kan, Bu?

Akulturasi Hindu-Budha-Islam juga terwujud dalam bangunan masjid, yakni Mesjid Menara Kudus. Bangunan menara masjid berbentuk seperti candi, yang menunjukkan terjadinya akulturasi budaya Hindu-Budha-Islam.

5. Soto Kerbau, Kuliner Khas Kudus

Soto Kerbau. Merasa aneh mendengar kuliner tersebut, Bu? Biasanya, kuliner soto identik dengan soto ayam, sapi, atau babad 'kan, ya? Soto kerbau sama dengan soto lain, hanya dagingnya saja yang berbeda.
Semangkuk soto kerbau berisi irisan daging kerbau, kol, kacang kedelai, cambah, dan mie putih. Disiram dengan kuah panas dari kaldu kerbau, kemudian ditaburi irisan bawang goreng dan daun sledri.

Oiya Bu, terdapat satu kuliner Kudus yang juga enggak kalah lezat, loh! Garang Asem Kudus. Olahan daging ayam berkuah ini sangat melegenda karena cita rasanya yang khas dan penyajian yang unik.
Daging ayam kuah dengan rasa lengkap. Asam, manis, pedas, yang blended banget, dan dibungkus dengan daun pisang.

Penasaran dengan rasa soto kerbau dan garang asem? Yuk, rencanakan perjalanan ke kota kretek ini!

You Might Also Like

6 komentar

  1. Sesekali lewat Kudus saat mudik dari Jakarta ke Madiun lewat jalur Semarang-Kudus-Blora-Bojonegoro. Tapi karena tengah malam, seringnya enggak mampir kemana-mana. Next pengin ah, lewatnya di tengah hari. Biar bisa menikmati kota Kudus dan kulinernya. TFS Mbak...

    BalasHapus
  2. Saya pernah ke Kota Kudus Mbak Kunarti, tapi masih SMP waktu itu. Semoga sebelum balik merantau, saya bisa kesana pengen nyoba soto kerbau hehehe

    BalasHapus
  3. Pernah lewat sekali, tp sepertinya perlu dikunjungi nih

    BalasHapus
  4. Kalo denger kata KUDUS, saya ingetnya jenang sama sotonya... hehe.. semoga suatu saat bisa punya kesempatan berkynjung ke Kudus, ya...

    BalasHapus
  5. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  6. Kita tetangga kota ternyata mbak. Saya dari Jepara. Malam mingguan sering hangout ke Kudus

    BalasHapus